TERNAK ULAT HONGKONG LEBIH MENJANJIKAN


MediaBnR.Com – Bang Teno salah satu warga Kudu Genuk Semarang berawal bermaksud menginginkan bisnis beternak kroto awal tahun 2013, dikarenakan perlu ulat hongkong sebagai makanannya (semut) diapun susah mendapatkannya. Atas petunjuk berasal dari rekannya bang Teno pada akhirnya bermaksud studi cara beternak ulat hongkong selanjutnya di Pulau Dewata. Di Pulau Bali inilah 1 minggu Bang Teno studi pembibitan ulat hongkong dipandu oleh Agus Negara.
Karena minimnya modal yang dipunyai, Bang Teno coba-coba mendapat modal berasal dari anaknya sebanyak 1 kg ulat hongkong yang pas itu harganya Rp. 50,000. Dengan menyisihkan 1 ons ulat hongkong untuk fokus dijadikan indukan sukses sehabis 1 tahun dijalaninya dan Bang Teno sanggup menjual ulat hongkong hasil ternaknya 10kg/minggunya dengan dengan harga jual cuma Rp. 35,000 /kg. Dari keberhasilannya inilah Bang Teno mulai fokus cuma ternak ulat hongkong dengan meninggalkan rancangan awalnya ternak kroto.
Berkat perjuangannya pada akhirnya Bang Teno beroleh utang berasal dari bank dan sanggup mendirikan bangunan berukuran 20x9m2 di pekarangan rumahnya. Sebagian modal yang diperoleh dimanfaatkan untuk membeli indukan ulat hongkong berasal dari Kota Malang, Jawa Timur, sebanyak 5 Kg sesampainya di Semarang 1 minggu sesudah itu 50% ulat hongkong selanjutnya mati dikarenakan perbedaan cuaca. Belajar berasal dari kegagalannya, Bang Teno tetap berusaha dan pada akhirnya berkunjung ke Blitar membeli 4 Kg bibit ulat hongkong dengan niatan 2,5 Kg dimanfaatkan untuk bibit ternaknya dan sisanya dijual dengan harga Rp. 23,000/Kg sebagai pengganti transportnya dan ini ditunaikan secara rutin 1 bulan sekali. Saat ini bang Teno sanggup panen ulat hongkong 3-4 kwintal tiap minggunya yang dijual pas ini dengan harga Rp.65,000 /kg.
Inilah tips dan cara pembibitan ulat hongkong sampai memanennya ala bang Teno:
CARA CETAK INDUKAN
• ulat hongkong yang di letakkan di media kotak berukuran 1×1,5 m2
• beri media polar gandum sebanyak 3 Kg
• beri minum 3 hari sekali dengan mengimbuhkan papaya muda yang dipotong-potong
• tunggu sampai 3,5 bulan ulat hongkong dapat berubah menjadi kepompong
• 1 minggu sesudah itu kepompong dapat berubah menjadi kepik (hitam) siap menjadi indukan.
PROSES PEMBIBITAN
• letakkan polar gandum sebanyak 3 Kg di kotak berukuran 1 x 1,5 m2
• sebar indukan ulat hongkong sebanyak 800 mg/4 gelas air mineral dalam kemasan
• diamkan selama 1 minggu
• pindah indukan dimedia baru dengan pola yang sama(hal ini sanggup ditunaikan selama 7x)
• jika volume tidak cukup berasal dari 4 gelas maka kudu disempurnakan kembali sebanyak takaran diatas
• media polar gandum yang telah dikosongkan berasal dari indukan pasti terdapat telur yang sanggup terlihat sehabis 2 minggu
• dan jangka pas 7 minggu ulat hongkong siap dipanen.
PEMBERIAN MAKAN
• Berikan ampas mengetahui sebagai makanannya dan papaya muda sebagai pengganti minumnya
• Ampas mengetahui diberikan tiap hari untuk ulat hongkong usia 1 bulan sampai dipanen sebanyak 3 kepal tiap kotaknya dan diberikan terhadap sore hari.
• Untuk minum gunakan pepaya muda yang diberikan 2 hari sekali
• Untuk kepompong tidak kudu diberi makan dan minum selama 1 mggu lamanya
HAL-HAL YG PERLU DIPERHATIKAN BREEDING ULAT HONGKONG
• Tempat pembibitan kudu steril dengan mengimbuhkan jaring bersifat kassa yang mengitari ruangan
• Beri ac dengan suhu 300 C
• Bersihkan berasal dari hama bersifat ulat kandang, semut jepang,dan gurem.
PENJUALAN
• Rantai penjualan di Jawa Tengah
 Peternak -> Sales/Bakul -> Pengecer (kios-kios)
• Rantai penjualan di Jawa Timur
 Peternak -> Pengepul -> Bakul/Sales -> Pengecer (kios-kios)
• Peternak menjual ke pengepul Rp. 35,000,00
• Pengepul ambil menguntungkan kisaran Rp. 2,000 – Rp. 3,000 perkilonya
• Sedangkan sales/pedagang kios mengambil keuntungan Rp. 5,000 – Rp. 7,000
• Saat ini bang Teno belum sanggup memasok Jual Ulat Hongkong di kota Semarang sendiri dikarenakan belum sanggup memenuhi permintaan dalam 1 minggu sampai 1 ton.
• Area yang di supply pas ini diantaranya Buyaran, Penggaron, Kendal, dan Pemalang
“Jawa Tengah masih jarang peternak ulat hongkong menjadi peternak langsung menjual ke sales/pengecer langsung. Beda di Jawa Timur telah banyak yang ternak ulat hongkong menjadi pengepul mengumpulkan ulat hongkong berasal dari peternak kecil dan sesudah itu disetorkan ke bakul dan diambil sales untuk dikirim ke luar kota ataupun di kotanya sendiri,” imbuh Bang Teno kepada BnR. (LamBanK)

Randy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *